Limbah kayu adalah bahan yang mengandung ligno-selulosa yang belum termanfaatkan dengan baik. Beberapa limbah kayu yang belum termanfaatkan dengan baik adalah tempurung kelapa, batang jerami, batang ilalang, tongkol dan batang jagung, sekam padi, ampas tebu (bagas), kulit kopi , cangkang buah pala, cangkang kacang tanah.
Potensi limbah kayu sangat tinggi sekali, namun efisiensi pengelolaan dan pengolahan limbah kayu sampai saat ini belum maksimal, sementara itu penanganan yang tidak tepat malah akan menimbulkan masalah bagi lingkungan. Penanganan limbah kayu untuk saat ini kalau tidak dibuang ke sungai, maka dijadikan kayu bakar saja. Limbah kayu yang tidak terurai dan mengapung menutupi permukaan air sungai, selain kurang enak untuk dilihat, juga akan mengganggu ekosistem air, dan semakin banyak limbah kayu yang dibakar dengan teknik yang tidak tepat, maka akan semakin meningkatkan emisi CO2 di atmosfer dan memicu pemanasan global. Oleh karena itu perlu penanganan limbah kayu yang tepat dan aplikatif, dengan teknologi pengelolaan limbah kayu yang tepat dan aplikatif akan menghasilkan produk yang memiliki nilai yang lebih baik dilihat dari segi ekonomis, ilmiah dan kesehatan lingkungan.
Teknologi pirolisis merupakan solusi yang tepat, efektif dan efisien, karena dengan teknologi pirolisis, proses pengolahan limbah kayu menjadi lebih terintegrasi yang dicirikan dengan adanya proses pengolahan yang jauh lebih singkat, konsumsi energi rendah, nilai tambah produk yang dihasilkan tinggi, serta multi produk dan multiguna, Produk hasil pengolahan limbah kayu yang multiguna dan bernilai ekonomi tinggi adalah arang sebagai produk utama, sedangkan asap cair dan ter merupakan produk sampingannya.
TEKNOLOGI PIROLISIS
Pirolisis adalah pengembangan dari teknik karbonisasi kayu yang berkembang di masyarakat. Teknik karbonisasi yang digunakan masyarakat umumnya dengan pembakaran kayu langsung dalam suatu tungku/drum/lubang dalam tanah dengan hasil utamanya arang dan hasil samping berupa asap yang dibuang ke udara dan Asap yang dihasilkan dari proses karbonisasi tersebut memiliki kontribusi terhadap pemanasan global (Nurhayati, 2000). Berbeda dengan teknik karbonisasi dengan pirolisis adalah proses pemanasan bahan kayu dengan suhu tinggi dalam wadah/tempat kedap udara dalam waktu tertentu, dimana asap yang dihasilkan dari pembakaran tidak dilepaskan ke udara, tetapi dikondensasi sehingga akan terbentuk cairan hitam yang disebut asap cair atau cairan pirolygneous liquor/crud (Hendra, 1992).
CARA PEMBUATAN ARANG KAYU DAN ASAP CAIR DENGAN
TEKNIK PIROLISIS
1. Limbah kayu (misal tempurung kelapa), sebelumnya dibersihkan dulu dari sabut kelapa dan kotoran yang masih melekat, tempurung yang sudah bersih kemudian dicacah menjadi ukuran yang kurang lebih sama, supaya dapat ditata dengan rapih dalam wadah tempurung
2. Cacahan tempurung kelapa kemudian dimasukkan ke dalam wadah. Tempurung kelapa dimasukkan ke dalam wadah sampai penuh.
3. Pemanasan/pembakaran dilakukan dengan kayu bakar yang dimasukkan ke dalam lubang pembakaran. Setelah asap tebal dan warnanya putih keluar dari lubang pemasukan tempurung, lubang tersebut ditutup rapat, dan pemanasan dilakukan sampai 6-7 jam.
4. Setelah proses pemanasan selesai, semua lubang udara yang ada ditutup rapat semalaman (24 jam), dan asap cair akan keluar dengan sendirinya. Pemanenan arang tempurung dilakukan besok harinya.
PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA ARANG DAN ASAP CAIR
DARI LIMBAH KAYU
Beberapa alternatif pemanfaatan yang masih bisa digali dan dikembangkan dari arang, antara lain: bahan baku pembuatan arang aktif, arang kompos , soil conditioning dan bahan penyerap logam berat. Sedangkan asap cair saat ini sedang populer karena memiliki multifungsi. Asap cair mengandung senyawa asam asetat, fenol, dan alkohol sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan pengawet makanan, penggumpal karet, pupuk organik, desinfektan, antimikroba, obat gatal-gatal pada kulit dan Biopestisda. Karena multimanfaat, maka pantas saja jika pasar terbuka lebar dan prospeknya sangat bagus. Sebagai contoh, berdasarkan hasil penelitian dari Universitas Gadjah Mada (UGM), asap cair ini dari tempurung kelapa ini mempunyai beberapa keunggulan, murah, mudah didapat dan tidak membahayakan kesehatan sehingga diharapkan akan menjadi pengganti bahan pengawet yang membahayakan kesehatan masyarakat seperti formalin dan boraks. Oleh karena itu asap cair dari tempurung kelapa ini sudah disiapkan oleh Departemen Kesehatan menjadi salah satu bahan pengawet yang memenuhi standar kesehatan.
Asap cair juga memiliki banyak manfaat dan keunggulan, sehingga telah banyak digunakan pada berbagai industri dan bidang, seperti industri pengolahan kayu, penyamakan kulit, pengolahan karet, di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan kesehatan.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Potensi limbah kayu tinggi tetapi masih belum dimanfaatkan secara optimal,
2. Perlu sosialisasi secara bertahap dan kontinyu tentang teknologi pirolisis dan manfaat produk teknologi pirolisis (arang dan asap cair) kepada masyarakat pada umumnya
3. Perlu uji coba dan penelitian lebih lanjut untuk melihat seberapa besar kemanfaatan produk arang dan asap cair dari limbah kayu untuk menangani berbagai masalah di industri pengolahan makanan, pengolahan kayu, penyamakan kulit, pengolahan karet, di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan kesehatan.
(Dari berbagai sumber)
3 komentar:
Isi artikel nya sangat menarik.
Ada sedikit masukan :
"Jika bacground blog nya warna biru, maka warna tulisan nya jangan yang biru atau yang gelap karena jadi tidak terlihat, cari warna tulisan yang terang sehingga akan kontras dgn biru dan membuat tulisannya lebih terlihat" contoh nya tulisan "pengikut" atau "profilku" hampir tidak terlihat
OK, terimakasih atas masukannya,akan sy coba perbaiki.
Artikel ini sangat menarik.... d daerah saya juga banyak limbah kayu yg blum dmnfaatkn dngn baik. Jdi pengen teliti pemanfaatan cangkang buah pala untuk pembuatan asap cair. Mba boleh saya minta email_adress.a ??
Posting Komentar