Kamis, 23 Juni 2011

PENGELOLAAN LIMBAH (1)


PENGELOLAAN LIMBAH ONGGOK SINGKONG


Pendahuluan

Energi fosil khususnya minyak bumi, merupakan sumber energi utama.  Konsumsi minyak dunia antara tahun 2010-2030 diperkirakan meningkat sekitar 26%.  Meningkatnya kebutuhan akan minyak bumi berbanding terbalik dengan cadangan minyak yang makin sedikit.  Kelangkaan dan tingginya bahan bakar minyak (BBM) saat ini merupakan topik yang mulai hangat diperbincangkan.  Fakta menunjukkan konsumsi BBM terus meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomik dan pertambahan penduduk.  Kebutuhan BBM di Indonesia saat ini mencapai 215 juta liter per hari, sedangkan yang diproduksi didalam negeri hanya 178 juta liter per hari.  Untuk  menutupi kekurangannya diimpor 40 juta liter per hari, dan sekarang Indonesia telah menjadi net-importir minyak bumi.  Impor BBM pun belum dapat mengatasi masalah, karena lebih dari 50 persen kebutuhan energi dalam negeri masih bertumpu pada minyak bumi.  Terbatasnya sumber energi fosil menyebabkan perlunya pengembangan energi terbarukan.  Salah satu sumber energi alternatif yang dapat dilirik adalah bioetanol.  Bioetanol ini merupakan energi terbarukan dan diharapkan dapat menjadi pengganti BBM.  Pengembangan bioetanol sebagai energi alternatif ini telah dipelopori PT Medco Energi Internasional Tbk.  Sudah tahun lamanya, Medco terjun ke Merauke dengan konsep Merauke Integrated Food anad Energi Estate (MIFEE) untuk mengelola lahan kritis yang ada di sana hingga menghasilkan sumber energi alternatif yang prospeknya cukup menjanjikan.  Perkebunan yang ditanami sorgum, kedelai, jagung, tebu  dan singkong telah menghasilkan produk pangan sebanyak 21,6 juta ton dan 13,6 juta kilo etanol telah diproduksi setiap tahunnya.  Bioetanol adalah etanol atau alkohol yang dihasilkan melalui proses fermentasi.  Fermentasi adalah suatu kegiatan yang memanfaatkan kemampuan mikroorganisme dalam menghasilkan produk.  Fermentasi adalah usaha manusia merubah limbah atau bahan-bahan mentah yang murah bahkan tidak berharga menjadi produk –produk yang bernilai ekonomik tinggi dan berguna bagi kesejahteraan umat manusia.

Fermentasi bioetanol dari onggok singkong


Onggok singkong diketahui sebagai limbah karena merupakan hasil sampingan pengolahan ubi kayu.  Saat ini pendayagunaan limbah onggok singkong belum  optimal, dan pada beberapa kasus pembuangan limbah onggok singkong ke alam menimbulkan pencemaran lingkungan.  Dengan teknik pengelolaan limbah yang benar, onggok singkong bisa dimanfaatkan secara maksimal menjadi bioetanol.  Komponen utama pada onggok singkong adalah pati sekitar 65% dan serat kasar 8%.  Proses fermentasi bioetanol terjadi pada kondisi anaerob dengan menggunakan khamir atau ragi tertentu yang dapat mengubah karbohidrat atau gula menjadi etanol.  Spesies ragi yang telah dikenal mempunyai daya konversi gula menjadi etanol yang sangat tinggi adalah Saccharomyces cerevisiae var. ellipsoids dan Schizosaccharomyces sp.   Saccharomyces cerevisiae var. ellipsoids menghasilkan enzim zimase, sedangkan Schizosaccharomyces sp.    Menghasilkan enzim invertase.  Enzim zimase berfungsi sebagai pemecah sukrosa menjadi monosakarida (glukosa dan fruktosa), sedangkan enzim invertase mengubah glukosa menjadi etanol.  


Bioetanol merupakan salah satu alternatif energi nonfosil yang mulai diintroduksi di Indonesia untuk kendaraan bermotor.  Fungsi bioetanol sebagai campuran bahan bakar kendaraan bermotor memiliki prospek bagus karena makin langka dan tingginya harga BBM. 

Keunggulan Bioetanol

Keunggulan bioetanol antara lain:
1.                 Bioetanol mengandung 35% oksigen sehingga dapat meningkatkan efisiensi pembakaran dan mengurangi emisi gas rumah kaca.


2.               Bioetanol dapat dicampur dengan bensin pada berbagai komposisi, hasil paduan keduanya menghasilkan emisi karbonmonoksida dan hidrokarbon yang lebih minim dibanding bensin premium yang beredat saat ini, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan lebih ramah lingkungan


3.               Nilai oktannya lebih tinggi dari bensin sehingga dapat menggantikan fungsi bahan aditif, seperti metil tertier butyl ether dan tetra ethyl lead


4.                 Biaya produksinya rendah karena sumber bahan bakunya merupakan hasil pertanian budidaya yang tidak bernilai ekonomi dan dapat diambil dengan mudah


5.               Proses produksinya relatif sederhana dan murah


6.                 Meningkatkan kualitas udara dan ketahanan energi nasional


7.               Membantu petani meningkatkan penghasilannya melalui intensifikasi budidaya dan perluasan lahan

Pengembangan Bietanol di Indonesia
Menurut pendiri PT Medco Energi Internasional Tbk,  di Merauke tersedia lahan datar seluas 4,5 juta hektar.  Jika luas lahan di Merauke digabungkan dengan lahan di Papua Selatan, akan tersedia lahan 12 juta hektar yang berpotensi menghasilkan 16 juta milyar dolar AS setiap tahunnya.  Dengan pengelolaan yang baik, Indonesia bisa jadi negara produsen etanol terbesar dunia, menyaingi Brasil yang sudah lebih dulu dikenal sebagai negara penghasil biufel dunia.  Brasil bisa berhasil dengan mengelola lahan 3,6 juta hektar alias hanya 4,5% dari keseluruhan lahan kritis yang ada adi Indonesia.  Potensi pengembangan etanol di Indonesia itu diakui Konsul Kehormatan Brasil di Indonesia Paulo Camiz de Fonseca yang menyatakan bahwa ”Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk mewujudkan program pengembangan bioetanol”.   Banyaknya kesamaan karakter antara Brasil dan Indonesia menjadi faktot lain yang dapat mendukung pengembangan program ini.  Atas dasar ini Konsul Kehormatan Brasil di Indonesia Paulo Camiz de Fonseca juga menyatakan dan menjanjikan pihaknya akan memberikan kemudahan informasi demi lancarnya pengembangan bioetanol di Indonesia.

Penutup
Bioetanol merupakan salah satu alternatif energi nonfosil yang mulai diintroduksi di Indonesia untuk kendaraan bermotor.  Fungsi bioetanol sebagai campuran bahan bakar kendaraan bermotor memiliki prospek bagus karena makin langka dan tingginya harga BBM.  Melihat begitu banyaknya keunggulan bioetanol dari onggok singkong ini, maka langkah yang perlu dipertimbangkan adalah memasyarakatkan penanaman singkong segera dan secara meluas serta merancang mekanisme pasar yang adil antara industri fermentasi bioetanol dan petani.

(Dari berbagai sumber)
 

Tidak ada komentar: