Kamis, 23 Juni 2011

CERITA PENDEK


LASTRI

“Mengapa kamu mau dinikahi sama lelaki itu, Lastri? Apakah kamu mencintainya? Lastri, jangan mau dipaksa nikah!” kata-kata itu terbersit dalam hati dan pikiran Lastri (perempuan cantik, anak seorang buruh tani di pinggiran kota Jogja), pertanyaan itu juga dilontarkan oleh Herman teman semasa kecil Lastri.  Lastri berkata dengan sungguh-sungguh, “Herman, orangtuamu kan seorang guru, jadi mereka mau menyekolahkan kamu sampai kamu memperoleh pendidikan tinggi, sedangkan orangtuaku menganggap aku sudah cukup sekolah sampai SMP saja.  Mereka sendiri kan tidak lulus SD.  Lastri melanjutkan omongannya, “orangtuaku memang menganjurkan untuk menikah dengan lelaki itu, meski aku tidak mencintainya, tapi aku akan mencoba belajar mencintainya
Setelah pernikahan Lastri, orangtuaku dipindahkan ke daerah Bandung.  Tetapi hubunganku dengan Lastri tidak putus begitu saja, sekalipun tidak selalu kubalas surat-suratnya, dia menceritakan suaminya yang mengabaikannya, “dia seorang pekerja keras, dia terlalu asyik dengan pekerjaanya, sampai-sampai tidak ada waktu sedikitpun untukku, saat dia ada di rumah, rumah bagai kuburan saja, dan itu sudah berlangsung selama 3 tahun lamanya”, waktu itu aku gugup menerima suratnya, aku tidak tahu harus membalas bagaimana.  Sempat aku tanyakan kepada teman-temanku, tetapi mereka tidak memberi jawaban yang memuaskan diriku.  Akhirnya, aku membalas suratnya sembarangan saja, “kalau memang dia tidak perhatian sama kamu, berarti dia egois, mumpung kamu belum punya anak dari dia, cerai sajalah dan tahun depan sekolah lagi.  Aku yakin dengan kecerdasan dan kecantikanmu, kau akan mendapatkan suami yang lebih baik”.
            Suratku tidak dibalas.  Aku cepat melupakan hal itu.  Aku disibukkan dengan kegiatan sekolah, lagipula aku merasa memiliki banyak teman waktu itu.  Dalam liburan semester ini, aku merasa jenuh di rumah dan ingin menemui Lastri di Jogja.  Sungguh mengejutkan, ketika sampai di rumahnya, Lastri sedang dirias seperti pengantin.  Lastri yang cantik itu melihatku dan langsung memelukku. “Herman, sudah lama aku sudah pingin ketemu kamu.  Menginap di rumahku saja, nanti malam aku akan menikah lagi”.
            Aku merasa aneh.  Dan perempuan itu meneruskan omongannya.  “Lakiku yang pertama meninggal.  Aku sendiri tidak tahu apa sakitnya.  Lakiku yang kedua ini, mudah-mudahan lebih baik dan sayang sama aku, tolong do’akan ya.
            “Kau kenal baik dia?”
            “Tidak, tetapi dia seorang calon Lurah di desa kami”
            “Kau betul-betul cinta padanya?”
            “Herman, jujur sebetulnya aku tidak mencintainya, tapi kalau aku tidak menikah lagi, lantas aku harus berbuat apa di desa? Janda itu banyak diomongin orang dan yang bisa aku lakukan adalah aku akan belajar untuk mencintainya.
***
            Surat yang dia kirim padaku, sepertinya menunjukkan bahwa dia sangat bahagia dengan perkawinannya.  Sekurang-kurangnya itu yang dia ceritakan padaku.  Seperti biasa aku terlampau malas untuk membalas suratnya, walaupun kadang-kadang aku kangen dengannya.  Aku sibuk dengan diriku sendiri.  Dan ingin pacaran sama Salma.
            Setelah lulus kuliah, aku dan Salma menikah.  Kami pindah ke Jakarta.  Pada saat itu kami benar-benar sibuk mengejar karier.  Masih ditambah ketiga anak kami yang lahir secara berturut-turut.  Namun, aku sangat gembira, Lastri masih mengirimiku surat.  Dan kali ini dia meneloponku.  Lastri bercerita, di desanya sudah ada wartel. “ Sungguh senang sekali aku bisa ngobrol denganmu, Herman”.
Dan ketika aku tanyakan bagaimana suaminya itu, dia bilang, “ dia sudah jadi Lurah di desa kami, semua orang menghormatinya dan segan sama dia”.
“Kau percaya?”
Lama dia tidak menjawab pertanyaanku.
“Gimana, kamu percaya sama dia?”
“Herman, aku tidak mau bertengkar dengan suamiku.  Do’akan saja ya, mudah-mudahan dia baik betul.  Dan aku kira, ketiga anakku yang rupawan cepat bisa mengobatiku dan aku senang mereka ada ditengah-tengah kami”.
Aku tercengang mendengar ucapan Lastri.  Mungkin aku terlampau lama hidup di Jakarta, sehingga hampir tak punya kepercayaan pada orang lain.  Tapi aku ingin selalu belajar pada Lastri, bagaimana caranya mencintai orang yang  tidak dia cintai.  Karena sekalipun sulit untuk dipercaya oleh diriku sendiri, baik Salma maupun aku rasanya sudah tidak memiliki cinta itu dari awal-awal pernikahan kami.  Untungnya, ketiga anakku tidak merepotkanku, dan aku masih punya kesempatan untuk mengambil S3.  Oleh karena itu aku akan mengundang Lastri dan suaminya pada sidang terbuka S3-ku. 
Dan ketika sibuk dengan disertasiku, aku mendapat surat yang agak panjang dari Lastri.
Herman yang tercinta,
Aku tahu kamu sedang sibuk, menyelesaikan sekolahmu.  Tetapi rasanya tidak mungkin aku menceritakan hal ini kecuali kepada teman semasa kecilku, aku lebih percaya sama kamu, Herman.  Suamiku kabur entah kemana, dia meninggalkan kami berempat, sekarang polisi sedang mencari keberadaannya.  Suamiku mengambil semua uang warga desaku, lalu dia kabur dengan uangnya bersama selirnya.  Aku sedih dengan nasib kehidupanku dan aku tidak menyangka akan begini akhirnya.  Herman, aku merasa dibohongi dan kecewa.
Herman yang baik, do’aku selalu kau bahagia dengan Salmamu.
Wassalam
Lastri

Aku terhenyak dan gemetar seluruh tubuhku saat membaca surat ini, aku ingin sekali menolong Lastri dan ketiga anaknya.
***
Waktu berjalan dengan cepat.  Aku semakin larut dengan kesibukkan demi kesibukan.  Dan rasanya semakin jauh dengan Salma (kami berdua memang sama-sama bersalah, tetapi tak selalu tahu bagaimana menggali cinta kami lagi). Namun yang paling aneh, dalam kondisi lemah seperti ini, aku merasa Lastri ada di mana-mana.  Lebih-lebih saat aku menyelesaikan disertasiku yang berat ini, bayangan dia seakan-akan berkelebat dimana-mana.
Setelah ulang tahunku yang ke-40, pernikahan kami malah semakin runyam dan pertengkaran sudah sering terjadi dan sangat menyakitkan.  Oleh karena itu, kukatakan kepada Salma dan anak-anakku, aku capek, dan aku telah berpikir, tidak bisa meneruskan pernikahan ini dan kami harus jalan sendiri-sendiri.
Beberapa hari di Bandung, bayangan Lastri semakin ramai.  Dan di hari kelima, seorang perempuan yang kelihatan tua mendekatiku dan memelukku erat-erat.
“Herman, aku merasa kau disini!”
Aku merasa terkejut dan sekaligus gembira bertemu dengan Lastri di sini.
“Aku akan menikah dengan lelakiku yang ketiga, Herman”, itu yang dia ucapkan.  Aku merasa sedih dan gusar mendengar ucapannya.  Tanpa sadar dengan sedikit emosi ku katakan padanya, “Kamu sudah tua, Lastri! Apakah mungkin kamu temukan lagi, cinta sejati dalam hidupmu? 
Lastri tertawa dan memelukku, “Herman, kau betul-betul sahabat sejatiku yang selalu datang pada setiap pernikahanku.  Besok aku akan menikah dan Dody akan menjemputku sebagai pengantin perempuan”.
Seluruh tubuhku lemas mendengarnya, sesungguhnya sampai saat inipun aku tidak ingin kehilangan Lastri.  Aku merasa sangat sendiri tanpa dia dalam hidupku!
Aku mungkin sangat capek dan tertidur lelap. Oleh karena itu, aku bermimpi, Lastri di jemput sama Dody sebagai pengantin perempuannya. 
Adzan subuh membangunkan mimpiku, dan saat aku membuka mata lebar-lebar, dengan senyum mengembang Lastri mengecup keningku, “Selamat pagi Cintaku,” tercium aroma melati (kembang pengantin) memenuhi kamar.
***

Tidak ada komentar: