Selasa, 18 Oktober 2011


PEMBELAJARAN DI TEMPAT KERJA
Oleh
IMAS AISYAH SP., M.Si

Pengalaman kerja apa sih yang telah kita peroleh
selama kita berada di tempat kerja?

Pertanyaan ini ditujukan kepada semua orang yang baru beberapa hari diangkat atau yang sudah lama bekerja sebagai pegawai/karyawan di suatu tempat.  Mungkin bagi sebagian dari kita telah mendapatkan pengalaman kerja yang sangat berharga setelah sekian lama kita bekerja, namun sebagian dari kita mungkin saja masih merasa bahwa apa yang kita kerjakan di tempat kerja selama belasan bahkan puluhan tahun adalah hal rutininas saja yang kita lakukan berulang-ulang, atau diantara kita merasa selama kita berada di tempat kerja seperti berputar di tempat yang sama dan seolah kita sedang berjalan di tempat dan tidak ada hal-hal lain yang kita peroleh selain melakukan hal yang sama dari hari ke hari, dari minggu ke minggu atau dari bulan ke bulan atau dari tahun ke tahun, hal-hal  inilah yang kemudian bisa menimbulkan rasa jenuh atau bahkan stress, dan biasanya setelah memasuki usia pensiun, kita baru akan tersadar bahwa pengalaman kerja kita selama puluhan tahun tidak memberikan sesuatu yang berarti untuk hidup kita atau kita merasakan bahwa ”Selama kita berada di tempat kerja kita tidak mendapatkan pengalaman kerja apa-apa”.

Banyak para pegawai/karyawan yang setelah bekerja puluhan tahun bahkan sampai memasuki masa pensiun pun kepribadiannya tidak berkembang, merasa takut dalam mengambil tindakan atau keputusan, ragu untuk melakukan inovasi atau hal-hal baru, merasa kesulitan untuk berkomunikasi, masih kurang pandai bernegosiasi dan berargumentasi di depan orang banyak, tidak berani menyampaikan ide-ide cemerlang, tidak bisa mengatasi atau menyelesaikan permasalahan dengan baik dan hal itu semua merupakan indikator kegagalan kita menimba pengalaman selama kita bekerja di tempat kerja kita.
Hal ini mungkin bisa terjadi pada diri kita, pada kita semua dan permasalahan utama kenapa itu bisa terjadi adalah karena kita tidak melakukan proses “Pembelajaran di Tempat Kerja” selama kita berada di tempat kerja.  Dengan melakukan “Pembelajaran di Tempat Kerja” selama kita bekerja maka pengetahuan tentang pekerjaan maupun pengembangan diri dapat kita peroleh, sehingga kita akan selalu tertantang untuk berbuat yang lebih baik dan lebih baik lagi, pada akhirnya akan membuat kita berkembang dan ujung-ujung nya karir, jabatan dan gaji tentunya akan meningkat dengan sendiri nya, bukan? Hal lain yang tak kalah penting adalah pada saat kita pensiun nanti, kita sudah siap menjadi pribadi yang matang secara lahir da bathin, pribadi yang sukses, banyak wawasan dan pengetahuan, penuh percaya diri dan siap menghadapi tantangan dan perubahan. 
Teknik-teknik “Pembelajaran di Tempat Kerja” yang harus kita ketahui, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Yang perlu kita lakukan adalah:
A.     Tentukan Keahlian Yang Ingin Kita Pelajari
Pada tahap pertama, kita harus instropeksi terhadap potensi diri dan identifikasi apa yang menjadi  kekurangan dan kelemahan diri, selanjutnya kita tentukan apa yang akan kita pelajari atau kemampuan apa yang ingin kita miliki, apakah dalam hal kemampuan bernegoisasi, berkomunikasi, membawakan presentasi, atau kemampuan pengembangkan diri lainnya.  Apapun yang akan kita pelajari harus menjadi pembelajaran yang akan meningkatkan atau menambah point terhadap aktivitas pekerjaan kita di kantor.
B.   Mencari “Sang Model”
Di tahap kedua ini, kita harus mencari “Sang Model” yang ingin kita pelajari, baik itu dari cara “Sang Model” bekerja sehari-hari maupun dari cara “Sang Model” bersikap, belajar dan mengembangkan diri.  “Sang Model” itu bisa kita dapatkan dari atasan kita dan tidak menutup kemungkinan dari bawahan kita. “Sang Model” yang kita pelajari juga bisa lebih dari satu model tergantung hal-hal apa saja yang ingin kita pelajari. Misalnya, kita tertarik dengan teknik “negosiasi” dari bapak “Fulan” maka mulailah setiap hari kita amati teknik  bapak “Fulan” sehingga beliau berhasil dalam bernegosiasi, berargumentasi, atau ada hal lain yang kita ingin kita pelajari dalam hal teknik “presentasi dan pendekatan ke atasan” dan ternyata kita menemukan teknik yang cocok untuk “presentasi dan pendekatan ke atasan” tersebut pada diri ibu “Hawa”, maka mulailah kita mempelajari teknik ibu “Hawa” tersebut dalam presentasi dan pendekatan ke atasan.  Setelah itu kita cari lagi point apa lagi yang ingin kita kembangkan dari diri kita, lalu cari “Sang Model” tersebut, begitu seterusnya kita lakukan  selama kita masih berada di tempat kerja kita.
                        
C.  Berusaha mengamati jurus-jurus dan teknik “Sang Model”
Di tahap ketiga ini, setiap hari kita harus berusaha mengamati jurus-jurus dan teknik “Sang Model” tersebut misalnya dalam hal bekerja, bersikap, berkomunikasi, bernegoisasi, berargumentasi saat presentasi, keberanian dan kepandaian dalam hal menyampaikan ide-ide cemerlang di depan atasan, berani dalam hal mengambil keputusan, dan mengembangkan diri sehari-hari di tempat kerja.                                 
Bernegosiasi sangatlah penting.  Mengetahui cara bernegosiasi yang benar seringkali sangat menguntungkan posisi kita di dunia karier. Negosiasi soal posisi yang ditawarkan, misalnya. Atau negosiasi soal kenaikan gaji. Masalahnya, tak banyak yang tahu dan mau bernegosiasi. Kunci pertama bernegosiasi adalah menjadi diri sendiri. Pilihlah cara negosiasi yang membuat Anda nyaman sekaligus mampu merefleksikan siapa diri Anda yang sebenarnya.  Tidak ada salahnya meniru gaya negosiasi orang lain.  Ambil cara yang terbaik yang dapat meningkatkan rasa percaya diri kita di depan orang yang kita ajak bicara.  Coba cari tahu apa kekuatan dan kelemahan kita, dan lihat bagaimana orang-orang bereaksi terhadap kekuatan dan kelemahan itu. Cara ini akan membantu kita menonjolkan kekuatan dan menyingkirkan kelemahan kita. Ini juga akan membantu kita mengenali kekurangan kita.
D. Berusaha sekuat tenaga untuk mempraktekan teknik-teknik yang sudah kita pelajari dari “Sang Model”

Di tahap keempat ini, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mempraktekkan teknik-teknik yang sudah kita pelajari dari “Sang Model” tersebut dalam kehidupan kerja kita sehari-hari, dan saat kita bekerja di tempat kerja dan jika kita sudah berhasil menerapkannya maka sebenarnya kita sudah berhasil mengubah cara kerja kita, cara berpikir kita, dan mengembangkan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih matang dalam bersikap, lebih berani dalam mengambil keputusan, tampil berani dan percaya diri  ketika menyampaikan ide dan argumen kepada orang lain dan yang paling utama menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi orang lain di sekitar lingkungan dimana kita berada.

E.  Menghindari hal-hal negative yang bisa merusak kepribadian dan karier
Di tahap kelima ini, kita harus berusaha untuk menghindari orang dan lingkungan di mana kita bekerja, yang bisa membawa aura negatif terhadap pribadi kita dan karier kita.  Contohnya kita harus menghindari beberapa hal berikut:
1.      Bergosip.  Hindarilah sikap tidak terpuji dengan menyebarkan berita negatif tentang rekan kerja, atasan atau bawahan kita kepada rekan yang lain yang berada dalam satu tempat kerja. Bersikaplah positif dan berusahalah menjadi contoh yang baik bagi rekan-rekan kerja yang lain. Dengan mengusung sikap terpuji, tidak bergosip atau bermain politik kotor di kantor, kita akan akan terhindar dari masalah yang tidak penting yang bisa menjadi penghalang karier kita.
           
Mengggosip atau ngobrol yang tak ada juntrungnya hanya akan merusak dan membuang-buang waktu saja, selain itu juga akan merusak konsentrasi, mengganggu pikiran, serta membuang momentum penting yang kita miliki. Lingkungan sangat kuat mempengaruhi pribadi seseorang, selama kita menjadi orang yang kuat dalam pendirian, bisa membawa diri menjadi pribadi yang kuat, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain, dan selalu berpikiran positif terhadap lingkungan, maka selamanya kita akan menjadi orang yang ”super” seburuk apapun lingkungan tersebut.
2.      Konflik Negatif.  Tak dapat dihindari, di setiap tempat  pasti akan muncul konflik. Bukan hidup namanya kalau tidak ada konflik. Konflik sendiri berbeda-beda jenisnya. Salah satunya konflik frontal dimana seorang karyawan akan dengan sangat terbuka menentang kebijakan perusahaan ataupun atasannya. Sebaiknya kita jangan ikut terpancing. Bersikap bijaklah menanggapi hal-hal seperti itu di sekeliling kita. Bila ada yang menentang pendapat kita, jangan diladeni dengan amarah atau emosi. Tetap berfikir jernih dan ajak setiap anggota team untuk berpikir demi kepentingan perusahaan bersama, bukan semata hanya untuk unjuk gigi kebolehan di depan manajemen.

Jika kita konsisten melakukan “Teknik Pembelajaran di Tempat Kerja” seperti di atas, niscaya kesuksesan akan sangat mudah kita raih dan kita kita pun siap memasuki dunia pensiun nanti dengan bekal berbagai pengalaman yang kita pelajari selama di tempat kerja, dan yang paling penting adalah pada saat ada orang lain bertanya “berapa lama pengalaman kerja anda ?”, maka “angka tahun” yang kita sebut sebagai “lamanya pengalaman kita ” tersebut benar-benar merupakan “lamanya pengalaman kita bekerja yang sesungguhnya” dan bukan merupakan “lamanya kita mengulangi kebodohan-kebodohan kita berulang-ulang di tempat kerja”.
Jadi.....tunggu apa lagi...marilah mulai hari ini kita melakukan “Pembelajaran di Tempat Kerja” dan percaya di ujung sana sukses sedang menanti kita......., Good Luck......

(Dari berbagai sumber)